Jumat, 13 Mei 2016

cerita rakyat jawa : lutung kasarung




LUTUNG KASARUNG

Pada jaman dahulu kala di tatar pasundan ada sebuah kerajaan yang pimpin oleh seorang raja yang bijaksana, beliau dikenal sebagai Prabu Tapak Agung.

Prabu Tapa Agung mempunyai dua orang putri cantik yaitu Purbararang dan adiknya Purbasari.

Pada saat mendekati akhir hayatnya Prabu Tapak Agung menunjuk Purbasari, putri bungsunya sebagai pengganti. “Aku sudah terlalu tua, saatnya aku turun tahta,” kata Prabu Tapa.

Purbasari memiliki kakak yang bernama Purbararang. Ia tidak setuju adiknya diangkat menggantikan Ayah mereka. “Aku putri Sulung, seharusnya ayahanda memilih aku sebagai penggantinya,” gerutu Purbararang pada tunangannya yang bernama Indrajaya. Kegeramannya yang sudah memuncak membuatnya mempunyai niat mencelakakan adiknya. Ia menemui seorang nenek sihir untuk memanterai Purbasari. Nenek sihir itu memanterai Purbasari sehingga saat itu juga tiba-tiba kulit Purbasari menjadi bertotol-totol hitam. Purbararang jadi punya alasan untuk mengusir adiknya tersebut. “Orang yang dikutuk seperti dia tidak pantas menjadi seorang Ratu !” ujar Purbararang.

Kemudian ia menyuruh seorang Patih untuk mengasingkan Purbasari ke hutan. Sesampai di hutan patih tersebut masih berbaik hati dengan membuatkan sebuah pondok untuk Purbasari. Ia pun menasehati Purbasari, “Tabahlah Tuan Putri. Cobaan ini pasti akan berakhir, Yang Maha Kuasa pasti akan selalu bersama Putri”. “Terima kasih paman”, ujar Purbasari.

Selama di hutan ia mempunyai banyak teman yaitu hewan-hewan yang selalu baik kepadanya. Diantara hewan tersebut ada seekor kera berbulu hitam yang misterius. Tetapi kera tersebut yang paling perhatian kepada Purbasari. Lutung kasarung selalu menggembirakan Purbasari dengan mengambilkan bunga –bunga yang indah serta buah-buahan bersama teman-temannya.

Pada saat malam bulan purnama, Lutung Kasarung bersikap aneh. Ia berjalan ke tempat yang sepi lalu bersemedi. Ia sedang memohon sesuatu kepada Dewata. Ini membuktikan bahwa Lutung Kasarung bukan makhluk biasa. Tidak lama kemudian, tanah di dekat Lutung merekah dan terciptalah sebuah telaga kecil, airnya jernih sekali. Airnya mengandung obat yang sangat harum.

Keesokan harinya Lutung Kasarung menemui Purbasari dan memintanya untuk mandi di telaga tersebut. “Apa manfaatnya bagiku ?”, pikir Purbasari. Tapi ia mau menurutinya. Tak lama setelah ia menceburkan dirinya. Sesuatu terjadi pada kulitnya. Kulitnya menjadi bersih seperti semula dan ia menjadi cantik kembali. Purbasari sangat terkejut dan gembira ketika ia bercermin ditelaga tersebut.

Di istana, Purbararang memutuskan untuk melihat adiknya di hutan. Ia pergi bersama tunangannya dan para pengawal. Ketika sampai di hutan, ia akhirnya bertemu dengan adiknya dan saling berpandangan. Purbararang tak percaya melihat adiknya kembali seperti semula. Purbararang tidak mau kehilangan muka, ia mengajak Purbasari adu panjang rambut. “Siapa yang paling panjang rambutnya dialah yang menang !”, kata Purbararang. Awalnya Purbasari tidak mau, tetapi karena terus didesak ia meladeni kakaknya. Ternyata rambut Purbasari lebih panjang.

“Baiklah aku kalah, tapi sekarang ayo kita adu tampan tunangan kita, Ini tunanganku”, kata Purbararang sambil mendekat kepada Indrajaya. Purbasari mulai gelisah dan kebingungan. Akhirnya ia melirik serta menarik tangan Lutung Kasarung. Lutung Kasarung melonjak-lonjak seakan-akan menenangkan Purbasari. Purbararang tertawa terbahak-bahak, “Jadi monyet itu tunanganmu ?”.

Pada saat itu juga Lutung Kasarung segera bersemedi. Tiba-tiba terjadi suatu keajaiban. Lutung Kasarung berubah menjadi seorang Pemuda gagah berwajah sangat tampan, lebih dari Indrajaya. Semua terkejut melihat kejadian itu seraya bersorak gembira. Purbararang akhirnya mengakui kekalahannya dan kesalahannya selama ini. Ia memohon maaf kepada adiknya dan memohon untuk tidak dihukum. Purbasari yang baik hati memaafkan mereka. Setelah kejadian itu akhirnya mereka semua kembali ke Istana.

Purbasari menjadi seorang ratu, didampingi oleh seorang pemuda idamannya. Pemuda yang ternyata selama ini selalu mendampinginya dihutan dalam wujud seekor lutung.

CERITA RAKYAT JAWA : KEONG MAS





Cerita Rakyat Tanah Jawa

KEONG MAS



Alkisah pada jaman dahulu kala hiduplah seorang pemuda bernama Galoran. Ia termasuk orang yang disegani karena kekayaan dan pangkat orangtuanya. Namun Galoran sangatlah malas dan boros. Sehari-hari kerjanya hanya menghambur-hamburkan harta orangtuanya, bahkan pada waktu orang tuanya meninggal dunia ia semakin sering berfoya-foya. Karena itu lama kelamaan habislah harta orangtuanya. Walaupun demikian tidak membuat Galoran sadar juga, bahkan waktu dihabiskannya dengan hanya bermalas-malasan dan berjalan-jalan. Iba warga kampung melihatnya. Namun setiap kali ada yang menawarkan pekerjaan kepadanya, Galoran hanya makan dan tidur saja tanpa mau melakukan pekerjaan tersebut. Namun akhirnya galoran dipungut oleh seorang janda berkecukupan untuk dijadikan teman hidupnya. Hal ini membuat Galoran sangat senang ; "Pucuk dicinta ulam pun tiba", demikian pikir Galoran.


Janda tersebut mempunyai seorang anak perempuan yang sangat rajin dan pandai menenun, namanya Jambean. Begitu bagusnya tenunan Jambean sampai dikenal diseluruh dusun tersebut. Namun Galoran sangat membenci anak tirinya itu, karena seringkali Jambean menegurnya karena selalu bermalas-malasan.
Rasa benci Galoran sedemikian dalamnya, sampai tega merencanakan pembunuhan anak tirinya sendiri. Dengan tajam dia berkata pada istrinya : " Hai, Nyai, sungguh beraninya Jambean kepadaku. Beraninya ia menasehati orangtua! Patutkah itu ?" "Sabar, Kak. Jambean tidak bermaksud buruk terhadap kakak" bujuk istrinya itu. "Tahu aku mengapa ia berbuat kasar padaku, agar aku pergi meninggalkan rumah ini !" seru nya lagi sambil melototkan matanya. "Jangan begitu kak, Jambean hanya sekedar mengingatkan agar kakak mau bekerja" demikian usaha sang istri meredakan amarahnya. "Ah .. omong kosong. Pendeknya sekarang engkau harus memilih .. aku atau anakmu !" demikian Galoran mengancam.


Sedih hati ibu Jambean. Sang ibu menangis siang-malam karena bingung hatinya. Ratapnya : " Sampai hati bapakmu menyiksaku jambean. Jambean anakku, mari kemari nak" serunya lirih. "Sebentar mak, tinggal sedikit tenunanku" jawab Jambean. "Nah selesai sudah" serunya lagi. Langsung Jambean mendapatkan ibunya yang tengah bersedih. "Mengapa emak bersedih saja" tanyanya dengan iba. Maka diceritakanlah rencana bapak Jambean yang merencanakan akan membunuh Jambean. Dengan sedih Jambean pun berkata : " Sudahlah mak jangan bersedih, biarlah aku memenuhi keinginan bapak. Yang benar akhirnya akan bahagia mak". "Namun hanya satu pesanku mak, apabila aku sudah dibunuh ayah janganlah mayatku ditanam tapi buang saja ke bendungan" jawabnya lagi. Dengan sangat sedih sang ibu pun mengangguk-angguk. Akhirnya Jambean pun dibunuh oleh ayah tirinya, dan sesuai permintaan Jambean sang ibu membuang mayatnya di bendungan. Dengan ajaib batang tubuh dan kepala Jambean berubah menjadi udang dan siput, atau disebut juga dengan keong dalam bahasa Jawanya.

Tersebutlah di Desa Dadapan dua orang janda bersaudara bernama Mbok Rondo Sambega dan Mbok Rondo Sembadil. Kedua janda itu hidup dengan sangat melarat dan bermata pencaharian mengumpulkan kayu dan daun talas. Suatu hari kedua bersaudara tersebut pergi ke dekat bendungan untuk mencari daun talas. Sangat terpana mereka melihat udang dan siput yang berwarna kuning keemasan. "Alangkah indahnya udang dan siput ini" seru Mbok Rondo Sambega "Lihatlah betapa indahnya warna kulitnya, kuning keemasan. Ingin aku bisa memeliharanya" serunya lagi. "Yah sangat indah, kita bawa saja udang dan keong ini pulang" sahut Mbok Rondo Sembadil. Maka dipungutnya udang dan siput tersebut untuk dibawa pulang. Kemudian udang dan siput tersebut mereka taruh di dalam tempayan tanah liat di dapur. Sejak mereka memelihara udang dan siput emas tersebut kehidupan merekapun berubah. Terutama setiap sehabis pulang bekerja, didapur telah tersedia lauk pauk dan rumah menjadi sangat rapih dan bersih. Mbok Rondo Sambega dan Mbok Rondo Sembadil juga merasa keheranan dengan adanya hal tersebut. Sampai pada suatu hari mereka berencana untuk mencari tahu siapakah gerangan yang melakukan hal tersebut.


Suatu hari mereka seperti biasanya pergi untuk mencari kayu dan daun talas, mereka berpura-pura pergi dan kemudian setelah berjalan agak jauh mereka segera kembali menyelinap ke dapur. Dari dapur terdengar suara gemerisik, kedua bersaudara itu segera mengintip dan melihat seorang gadis cantik keluar dari tempayan tanah liat yang berisi udang dan Keong Emas peliharaan mereka. "tentu dia adalah jelmaan keong dan udang emas itu" bisik Mbok Rondo Sambega kepada Mbok Rondo Sembadil. "Ayo kita tangkap sebelum menjelma kembali menjadi udang dan Keong Emas" bisik Mbok Rondo Sembadil. Dengan perlahan-lahan mereka masuk ke dapur, lalu ditangkapnya gadis yang sedang asik memasak itu. "Ayo ceritakan lekas nak, siapa gerangan kamu itu" desak Mbok Rondo Sambega "Bidadarikah kamu ?" sahutnya lagi. "bukan Mak, saya manusia biasa yang karena dibunuh dan dibuang oleh orang tua saya, maka saya menjelma menjadi udang dan keong" sahut Jambean lirih. "terharu mendengar cerita Jambean kedua bersaudara itu akhirnya mengambil Keong Emas sebagai anak angkat mereka. Sejak itu Keong Emas membantu kedua bersaudara tersebut dengan menenun. Tenunannya sangat indah dan bagus sehingga terkenallah tenunan terebut keseluruh negeri, dan kedua janda bersaudara tersebut menjadi bertambah kaya dari hari kehari.


Sampailah tenunan tersebut di ibu kota kerajaan. Sang raja muda sangat tertarik dengan tenunan buatan Jambean atau Keong Emas tersebut. Akhirnya raja memutuskan untuk meninjau sendiri pembuatan tenunan tersebut dan pergi meninggalkan kerajaan dengan menyamar sebagai saudagar kain. Akhirnya tahulah raja perihal Keong Emas tersebut, dan sangat tertarik oleh kecantikan dan kerajinan Keong Emas. Raja menitahkan kedua bersaudara tersebut untuk membawa Jambean atau Keong Emas untuk masuk ke kerajaan dan meminang si Keong Emas untuk dijadikan permaisurinya. Betapa senang hati kedua janda bersaudara tersebut.



CERITA RAKYAT RIAU : PUTRI KACA MAYA





PUTRI KACA MAYANG

Pada zaman dahulu kala, di tepi Sungai Siak, berdirilah sebuah kerajaan yang bernama Kerajaan Gasib. Di kerajaan ini, seluruh penduduk hidup damai dan sejahtera karena Kerajaan Gasib dipimpin oleh seorang raja yang bijaksana, didampingi seorang ratu yang sangat anggun dan cerdas, juga dibantu seorang panglima yang gagah berani, Panglima Gimpam namanya. Kerajaan Gasib juga memiliki seorang putri bernama Puteri Kaca Mayang, yang kecantikan dan keluhuran budinya terkenal hingga seluruh penjuru negeri, bahkan ke negara-negara tetangga. Banyak raja dari negeri tetangga yang ingin meminang Puteri Kaca Mayang, namun tak satu pun yang diterimanya karena ia belum ingin menikah dan masih ingin melanjutkan pendidikan ke tingkat yang lebih tinggi. Pada suatu hari, Puteri Kaca Mayang dan kedua orangtuanya sedang berbincang-bincang di istana kerajaan.
“Wahai, anakku. Tidakkah engkau ingin menerima salah satu pinangan dari raja-raja negeri tetangga tersebut?” tanya Raja Gasib. “Benar, anakku. Ku rasa, sekarang adalah waktu yang tepat bagimu untuk mulai membina rumah tangga. Aku tak sabar ingin segera menimang cucu dari putri semata wayangku,” timpal sang Ratu.
“Ibu, Ayah, maafkan jika Ananda lancang. Namun hati Ananda masih menyimpan harapan untuk mengenyam pendidikan yang lebih tinggi lagi, bukan untuk menikah terlebih dahulu, Ananda ingin membuat kerajaan kita maju,” jelas Puteri Kaca Mayang. “Baiklah, Ananda. Jika memang itu keputusanmu, Ibu dan Ayah akan mendukung dengan sepenuh hati,” ujar sang Raja memaklumi.


Sementara itu, di Kerajaan Aceh yang dipimpin oleh Raja Aceh yang dikenal angkuh dan pemarah, sedang terjadi cekcok karena kedua istrinya terus berebut mencuri perhatiannya
“Kakanda, seminggu yang lalu saat aku melancong ke Batavia, aku melihat sebuah toko yang menawarkan berlian dengan harga murah, kira-kira hanya setara dengan 200 keping emas. Bolehkah aku membelinya sebagai tambahan perhiasanku?” pinta sang istri tua dengan nada mendayu-dayu.
“Kakanda, sepertinya aku membutuhkan sebuah kereta kencana baru untukku pribadi, bukannya berbagi dengan si nenek tua itu!” ujar sang istri muda sambil melirik sinis ke istri tua.
“Apa?! Nenek tua?! Seenaknya kau mengatai aku seperti itu!” bentak istri tua seraya menjambak kerudung istri muda.
Istri muda pun tak tinggal diam. Ia pun balas menjambak kerudung istri tua.

“Hentikan! Kepalaku sudah cukup pusing untuk mengatasi semua masalah di negeri ini, janganlah kalian berdua menambah sakit kepalaku! Sekali lagi aku melihat kalian bertengkar, aku tak segan mengusir kalian berdua dari istana ini!” ujar sang Raja dengan penuh amarah.
“Mm..maafkan kami, Kakanda,” ujar istri tua dan istri muda bersamaan dengan rasa takut. Keduanya segera berjabat tangan. “Panglima! Panglima!” Raja Aceh berteriak memanggil panglima kerajaan.
Kedua panglima tersebut segera berlari menghampiri Rajanya.

“Ampun, Baginda. Apa gerangan Baginda memanggil kami?” tanya panglima pertama.
“Aku menginginkan Puteri Kaca Mayang dari Kerajaan Gasib untuk menjadi istriku yang ketiga. Tolong sampaikan pinanganku ke Kerajaan Gasib,” ujar sang Raja.
“Apakah Baginda yakin dengan keputusan tersebut?” tanya panglima kedua ragu-ragu.
“Ya, Panglima. Aku sangat yakin dengan keputusanku. Pergilah kalian ke Kerajaan Gasib sekarang juga!” perintah Raja Aceh. “Baik, Baginda. Kami akan ke sana sekarang juga,” jawab kedua panglima seraya mengangguk.
Tak lama kemudian, kedua panglima Aceh tiba di Kerajaan Gasib. Mereka melihat Ratu Gasib dari kejauhan dan seraya menghampiri sang Ratu.

“Baginda,” kedua panglima menyapa sang Ratu.
“Siapa kalian? Apa gerangan kalian datang ke mari?” tanya sang Ratu terkejut setelah ia membalikkan badannya ke arah kedua panglima. Nampaknya, sedari tadi ia tidak mengetahui akan kedatangan panglima tersebut.
“Ampun, Baginda. Kami panglima dari Kerajaan Aceh. Kami berdua datang ke mari diutus oleh Raja Aceh. Kami ingin bertemu Baginda Raja Gasib,” jawab panglima pertama.
“Mengapa ia mengutus kalian ke mari?” tanya Ratu Gasib bingung.
“Raja kami ingin meminang putri Baginda, Puteri Kaca Mayang,” jawab panglima kedua.

“Benar, Baginda,” panglima pertama mengiyakan.
“Maaf, Panglima. Kami belum bisa menerima pinangan dari raja kalian. Putriku belum siap untuk menikah. Sampaikan permohonan maaf dari kami kepada raja kalian,” jelas sang Ratu sambil menghela napas.
“Baiklah, Baginda. Kami akan kembali ke Aceh untuk menyampaikan jawaban Baginda,” ujar panglima kedua.
Kedua panglima Aceh kembali ke kerajaan mereka dengan perasaan kecewa. Mereka takut Raja Aceh murka karena pinangannya ditolak. Sesampainya di kerajaan, mereka segera menemui raja mereka untuk menyampaikan kabar tersebut.

“Selamat datang, Panglimaku. Bagaimana kabar pinanganku?” tanya Raja tak sabar.
“Mm-mo.. mohon maaf, Baginda. Pihak Kerajaan Gasib menolak pinangan Baginda,” jawab panglima kedua dengan wajah ketakutan.
“Apa?!” Raja berteriak dengan sangat emosi. Teriakan sang Raja ternyata terdengar oleh kedua istrinya. Mereka segera berlari mendekati suaminya yang tampak sangat murka itu.

“Aaa…da apa, Kakanda? Apa sebab dikau murka?” tanya istri tua keheranan.
“Ya, Kakanda. Apakah nenek tua ini memancing emosimu lagi?” tanya istri muda sambil melirik istri tua.
“Apa katamu?! Dasar perempuan tak tahu diri!” istri tua marah dan mendorong istri muda. Keduanya pun bertengkar dan Raja Aceh segera memerintahkan kedua panglimanya untuk memisahkan istri-istrinya. Setelah itu, ia kembali berbicara dengan kedua panglimanya.
“Tidak mungkin Raja Gasib menolak pinanganku!” ucap Raja Aceh sambil berpikir.
“Nnn…namun begitulah kenyatannya, Baginda,” jawab panglima pertama terbata-bata.
“Kurang ajar kau, Gasib! Aku tak akan tinggal diam, akan ku balas perbuatanmu!” tegas Raja Aceh murka dan penuh dendam.


Karena telah mengenal sifat pendendam Raja Aceh, maka Raja Gasib segera menyiapkan pasukan perang untuk menghadapi serangan Kerajaan Aceh. Ia pun memanggil panglima setianya untuk menghadap.
“Panglima Gimpam, ke marilah!” panggil sang Raja.
“Baik, Baginda. Apa gerangan baginda memanggil hamba?” tanya panglima.
“Aku ingin kau menyiapkan pasukan perang kerajaan kita,” jawab Raja Gasib.
“Baiklah, Baginda. Namun, jika boleh hamba tahu, mengapa Baginda menyuruh hamba menyiapkan pasukan perang?” tanya panglima ingin tahu.

“Aku takut jika sewaktu-waktu Raja Aceh menyerang kerajaan kita, karena aku menolak pinangannya terhadap putriku. Kini, kau ku perintahkan untuk memimpin pasukan di Kuala Gasib,” jelas sang Raja.
“Baiklah, Baginda. Hamba akan segera melaksanakan perintah Baginda,” ujar panglima menuruti titah rajanya.
Ternyata, yang dikhawatirkan oleh Raja Gasib menjadi kenyataan. Tak lama setelah itu, Raja Aceh beserta pasukannya telah mengetahui persiapan Kerajaan Gasib dan mereka telah mengetahui bahwa Kuala Gasib, yang merupakan jalur utama menuju negeri itu dipimpin oleh Panglima Gimpam yang gagah berani.

“Hahaha. Ternyata Kerajaan Gasib telah menyiapkan pasukannya untuk melawan kita! Tak akan ku biarkan mereka menang!” ujar Raja Aceh.
“Maaf, Baginda. Ternyata, Kuala Gasib telah dijaga oleh Panglima Gimpam,” ucap panglima pertama.
“Apa?! Jadi, lewat jalan mana kita bisa menuju ke kerajaan Gasib?” tanya sang Raja Aceh.
“Lebih baik kita bertanya pada penduduk kerajaan Gasib, Baginda,” panglima kedua mengusulkan.

“Ya, Panglima. Kau benar. Ayo, kita segera menyiapkan pasukan dan langsung pergi ke Kerajaan Gasib!” ajak sang Raja. Raja Aceh dan pasukannya pergi ke Kerajaan Gasib. Di tengah perjalanan, mereka bertemu dengan salah satu penduduk Kerajaan Gasib.
“Sepertinya, itu penduduk Kerajaan Gasib, Baginda,” kata panglima kedua sambil menunjuk ke arah penduduk tersebut.
“Ya, benar. Mari kita segera ke sana!” perintah sang Raja.
“Hai, anak muda. Apakah benar kau penduduk negeri Gasib?” tanya sang Raja kepada pemuda itu.

“Bb..enar, Tuan. Siapakah gerangan tuan-tuan ini? Dan hendak ke mana?” tanya pemuda itu terbata-bata.
“Kami dari Kerajaan Aceh hendak menuju ke negeri kalian. Tolong tunjukkan kami jalan darat menuju Kerajaan Gasib!” kata panglima kedua.
“Hamba ttt….ttiddak ttahuu, Tu…tuan,” jawab si pemuda ketakutan dan tergagap-gagap seraya berbohong.
“Benarkah itu? Bagaimana dengan ini?” ujar sang Raja sambil mengibaskan segepok uang di hadapan pemuda itu.

“Bbb…baiklah, Tuan. Ke arah sana.” ujarnya seraya menunjukkan arah jalan kepada rombongan kerajaan Aceh. Akhirnya, Raja Aceh beserta pasukannya sampai di Kerajaan Gasib tanpa melewati penjagaan Panglima Gimpam. Ia langsung menghancurkan seisi negeri tersebut.
“Hahahaha. Akhirnya kita sampai di sini tanpa melewati penjagaan Panglima Gimpam. Hahaha. Semua pasukanku, ayo serang!” perintah sang Raja. Penduduk Gasib yang melihat Pasukan Aceh menghancurkan negerinya segera melapor kepada Raja Gasib.

“Baginda, pasukan Kerajaan Aceh telah memporak-porandakan negeri kita dan kini mereka menyerang halaman istana,” ujar penduduk ketakutan.
“Benarkah itu?” tanya Raja Gasib.
Di samping itu, Puteri Kaca Mayang disekap dan Ratu Gasib dibunuh oleh panglima Aceh.
“Ayah, tolong aku..” jerit sang Putri.
“Diam, kau!” bentak panglima pertama.

“Putriku.. Aaargh!” teriak sang Ratu kesakitan. Panglima kedua telah menancapkan sebilah pisau di tubuh Ratu Gasib. Ia pun tak dapat tertolong. Tubuhnya terjatuh ke tanah kerana kehilangan banyak darah. Kedua penglima Aceh segera melarikan diri. Melihat hal itu, Raja Gasib segera menghampiri mayat istrinya seraya memeluknya.
“Putriku.. Istriku..” jerit sang Raja histeris. Panglima Gimpam datang dari Kuala Gasib dan terkejut melihat seisi istana porak-poranda dan melihat Ratu Gasib yang bersimbah darah.

“Hah! Apa-apaan ini? Mengapa kerajaan bisa jadi porak-poranda?! Mengapa Ratu Gasib meninggal dunia?!” tanyanya terkejut. “Ini akibat pasukan kerajaan Aceh, wahai, Panglima. Mereka menculik Puteri Kaca Mayang dan membunuh Baginda Ratu,” ujar salah satu penduduk.
“Apa?! Kurang ajar sekali Raja Aceh itu, akan ku balas kekalahan ini! Aku harus bisa membawa Puteri Kaca Mayang kembali ke sini!” ucapnya marah.
“Benar, Panglima. Sebaiknya panglima secepatnya menuju ke sana agar kondisinya tidak semakin parah!” pinta salah seorang penduduk itu.
“Baiklah, aku akan segera ke sana. Tolong jaga kerajaan ini selama aku pergi!” pesan Panglima Gimpam.

Saat tiba di gerbang Kerajaan Aceh, Panglima Gimpam disambut oleh kedua Panglima Aceh. Mereka menghadang Panglima Gimpam dan menantang Panglima Gimpam berkelahi. Jika Panglima Gimpam menang, maka ia boleh menjemput Puteri Kaca Mayang. Namun jika ia kalah, maka ia harus kembali ke Kerajaan Gasib dengan tangan kosong dan Puteri Kaca Mayang harus tinggal di Kerajaan Aceh untuk selamanya.
“Akhirnya, sampai juga aku di sini,” Panglima Gimpam bergumam.
“Hahaha, ternyata kau telah sampai, Gimpam,” ujar panglima kedua yang tiba-tiba muncul dari belakang Panglima Gimpam. “Ya, aku ke sini untuk membalaskan dendamku atas meninggalnya Yang Mulia Ratu Gasib. Aku ingin membawa pulang Puteri Kaca Mayang kembali ke kerajaan Gasib!” ucap Panglima Gimpam.

“Hahaha, baiklah. Kau bisa membawa pulang Puteri Kaca Mayang, asalkan kau berani bertarung dengan kami berdua. Taruhannya Puteri Kaca Mayang. Jjika kau menang kau bisa membawanya kembali, namun jika kau kalah, ia harus tinggal di sini selamanya!” jelas panglima pertama.
“Benar, tapi aku yakin kau takkan menang. Hahaha..” ujar panglima mengiyakan sambil meremehkan Panglima Gimpam.
“Baiklah, aku sanggupi tantangan kalian. Apa pun akan ku lakukan demi Puteri Kaca Mayang,” balas Panglima Gimpam menerima tantangan dari kedua Panglima Aceh.

Panglima Gimpam dan kedua Panglima Aceh pun berkelahi. Kedua Panglima Aceh mengalami kekalahan. Mereka tidak sanggup melawan Panglima Gimpam. Panglima pertama lari terbirit-birit bersembunyi. Sementara itu, panglima kedua tak dapat tertolong nyawanya. Ia pun meninggal dunia.
“Bagaimana? Sudah jelas bukan, siapa yang memenangkan pertarungan ini?” tanya Panglima Gimpam.
“Hm… ku akui kesaktianmu, Gimpam. Panglima, bawa Puteri Kaca Mayang ke mari!” perintah Raja Aceh. Mendengar perintah dari rajanya, panglima pertama segera membawa Puteri Kaca Mayang ke hadapan sang Raja.

“Panglima, apakah kau datang untuk menjemputku?” tanya Puteri Kaca Mayang.
“Ya, Puteri. Aku datang untuk menjemputmu,” jawab Panglima Gimpam seraya berlutut memberi hormat.
“Hahaha, kembalilah kalian ke Kerajaan Gasib! Aku terpaksa merelakan kau, Puteri Kaca Mayang. Jika sewaktu-waktu kau berubah pikiran, kembalilah ke mari! Hahaha..” ujar Raja Aceh sambil tertawa licik.

“Tidak akan! Aku tidak akan membiarkan Puteri Kaca Mayang kembali ke sini! Puteri, ayo kita pulang!” ajak Panglima Gimpam. Puteri Kaca Mayang dan Panglima Gimpam segera meninggalkan Kerajaan Aceh. Di tengah perjalanan, ternyata penyakit Puteri Kaca Mayang kambuh. Napasnya terasa sangat sesak. Saat itu juga, angin sedang bertiup dengan kencangnya. Puteri Kaca Mayang pun meminta Panglima Gimpam untuk beristirahat sejenak.
“Panglima, a…ngin… i..ini sa..ngat ken-cang. Aku ttak bbissa ber..napas lagi.. bbb-isaa.. kkah.. kita.. bber-hen..ti sse-jjenak?” pinta sang Puteri.
“Bb..baiklah, Puteri. Kita istirahat sebentar,” jawab Panglima Gimpam cemas.
“Te-tee..ri..ma.. kasih.. pang-li..ma. A..ku rasa u-murku t-tak lama la..gi.. sam-paikan.. per..mohonan maa-maafku ke-pa..da A..yaah,” ujar sang Puteri semakin terbata-bata.

“Puteri, bertahanlah! Tak lama lagi kita akan tiba di Kerajaan Gasib,” ucap Panglima Gimpam risau.
“Mmm..maafkan.. a-aku.. pangli..ma… tt-te..rima ka..sih.. kau mau mene-maa..ni.. ak-aku sampai ak..hir ha..yat..ku.” ujar sang Puteri seraya menghembuskan napasnya yang terakhir.
“Puteriiii!!!” teriak Panglima Gimpam histeris.
“Seandainya kau tahu, setulusnya aku menyayangimu, Puteri..” bisiknya lirih.

Akhirnya, Panglima Gimpam membawa jasad Puteri Kaca Mayang yang telah meninggal. Sesampainya di kerajaan Gasib, jasad Puteri Kaca Mayang disambut dengan kepiluan dari seisi penghuni istana.
“Baginda, hamba datang membawa jenazah Puteri Kaca Mayang. Ia meninggal di tengah perjalanan kembali ke sini,” ucap Panglima Gimpam sedih.
“Benarkah?! Tak mungkin! Tak mungkin putriku telah meninggal dunia!” ujar Raja Gasib tak percaya.
“Maafkan hamba, Baginda. Namun, itulah kenyataannya,” Panglima meyakinkan.

“Innalillahi wainnailaihi rajiun. Padahal… padahal.. aku baru berniat menjodohkanmu dengannya,” ucap sang Raja berlinang air mata.
“Ini takdir, Baginda,” jawab sang Panglima.
“Baiklah. Kita harus segera memakamkannya, sekarang juga!” perintah Raja Gasib.
Setelah Puteri Kaca Mayang dimakamkan, Raja Gasib dilanda rasa pilu yang berat karena kehilangan putri semata wayangnya. Ia pun memutuskan untuk menyepi ke Gunung Ledang.

“Wahai, Panglima. Kemarilah sebentar!” panggil sang Raja.
“Baik, Baginda,” Panglima menuruti.
“Ku serahkan mahkota Kerajaan Gasib padamu. Kau berhak menggantikanku sebagai pemimpin kerajaan ini.” ucap sang Raja seraya pergi meninggalkan kerajaan.
“Terima kasih, Baginda. Tapi, aku tak pantas memakai mahkota ini,” jawab Panglima dan ia pun segera bangkit dari singgasana.

Akhirnya, Panglima Gimpam menggantikan posisi Raja Gasib. Namun karena kesetiaannya kepada sang raja, ia pun ikut meninggalkan kerajaan itu dan membuka perkampungan baru yang diberi nama Pekanbaharu. Tetapi, seiring dengan berjalannya waktu, nama Pekanbaharu lama-kelamaan berubah menjadi Pekanbaru.